Categories Ideas

Menembus Pasar Global Lewat Strategi Digital


Transformasi digital mendorong perubahan signifikan dalam pola perdagangan global. Pameran fisik yang sebelumnya menjadi kanal utama ekspor kini bergeser ke platform digital berbasis data, algoritma, dan sistem kepercayaan. Perubahan ini dimanfaatkan pelaku industri home décor dan kerajinan Indonesia, termasuk Dekorasia, perusahaan yang dikelola Bambang Wijaya, melalui platform Alibaba.com.

Selama lebih dari 14 tahun, Dekor Asia mengembangkan bisnis ekspor berbasis digital dengan memanfaatkan ekosistem Alibaba, platform business-to-business (B2B) terbesar di dunia. Alibaba saat ini memiliki ratusan ribu seller aktif dan mencatat puluhan juta inquiry setiap tahunnya dari buyer global lintas sektor, mulai dari furnitur, tekstil, hingga material bangunan.

Alibaba menerapkan sistem keanggotaan berbayar, verifikasi usaha berlapis, serta pemeringkatan akun berbasis performa. Sistem ini mencakup pemeriksaan legalitas perusahaan, kantor, laporan usaha, hingga audit pihak ketiga. Menurut Bambang, mekanisme tersebut membangun trust economy yang menjadi fondasi transaksi B2B lintas negara.

“Di Alibaba, yang dinilai bukan hanya produk dan harga, tetapi juga kredibilitas akun, kecepatan respons, dan rekam jejak digital,” ujarnya.

Pengelolaan akun yang konsisten membawa Dekor Asia meraih New Power Award, penghargaan tahunan Alibaba bagi akun dengan kinerja unggul secara global. Penilaian mencakup trafik, kualitas inquiry, transaksi, serta stabilitas bisnis. Bambang juga diutus Alibaba untuk mewakili Indonesia dan ASEAN dalam presentasi internasional yang disiarkan secara langsung dan ditonton lebih dari tiga juta pemirsa.

Dalam forum tersebut, ia memaparkan potensi industri home décor Indonesia yang ditopang material lokal seperti kayu dan serat alam, serta keterlibatan UKM dalam rantai pasok ekspor. Menurutnya, Indonesia kerap menjadi tujuan pencarian buyer global untuk produk berbasis alam dan kerajinan.

“Banyak buyer memfilter pencarian langsung ke Indonesia karena karakter produknya kuat dan memiliki diferensiasi,” katanya.

Bambang Wijaya (kiri) bersama Wakil Ketua Umum III ASEPHI Bidang Pengembangan Youth Craft dan Digital Muchamad Ali Jufry
Algoritma, Verifikasi, dan RFQ

Sebagai platform B2B, Alibaba mempertemukan produsen dengan buyer yang telah terseleksi. Salah satu fitur utama adalah Request for Quotation (RFQ), di mana buyer memposting kebutuhan produk dan sistem mendistribusikannya secara otomatis kepada seller sesuai kategori, level keanggotaan, dan performa akun.

Model ini menggantikan pendekatan konvensional seperti pameran fisik dan promosi manual. “Transaksi kini dimulai dari keyword, dashboard, dan notifikasi digital. Inquiry bisa datang setiap hari,” ujar Bambang.

Alibaba juga menerapkan pemeringkatan buyer (L1–L4) dan seller (Star Member) untuk menjaga kualitas transaksi. Sistem ini memastikan interaksi bisnis berlangsung di antara pelaku usaha yang kredibel dan memiliki rekam jejak jelas.

Meski persaingan harga tidak terhindarkan, Bambang menilai kompetisi di Alibaba lebih berfokus pada reputasi dan kualitas layanan. Buyer global cenderung menilai profesionalisme komunikasi, kecepatan respons, manajemen akun, serta kelengkapan profil bisnis.

“Mereka mencari mitra jangka panjang, bukan sekadar harga murah. Konsistensi dan layanan menjadi pembeda utama,” ujarnya.

Bambang Wijaya bersama Tim Dekor Asia
Edukasi Digital dan Kolaborasi UKM

Selain menjalankan bisnis, Bambang tercatat sebagai official lecturer dan channel partner Alibaba, serta aktif mendampingi UKM melalui kerja sama dengan kementerian dan asosiasi industri. Ia menekankan bahwa keanggotaan platform tanpa pendampingan dan manajemen yang tepat berisiko tidak menghasilkan transaksi.

“Registrasi bukan akhir, tetapi awal dari kerja keras pengelolaan akun,” katanya.

Melalui program pendampingan, pelaku UKM dibekali kemampuan optimasi keyword, pengelolaan konten, negosiasi digital, hingga strategi membangun kepercayaan buyer global.

Untuk memenuhi permintaan pasar internasional, Dekorasia juga membangun jaringan kolaborasi produksi lintas daerah, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara, didukung gudang dan sistem distribusi terintegrasi.

“Buyer global membutuhkan kepastian suplai. Kolaborasi menjadi kunci,” tegas Bambang.

Dengan kesiapan digital, manajemen yang disiplin, dan kolaborasi rantai pasok, produk dekorasi dan kerajinan Indonesia dinilai memiliki peluang besar menembus pasar global secara berkelanjutan.

“Yang bertahan bukan yang paling murah, tetapi yang paling siap secara digital,” pungkasnya.

Agen Togel Terpercaya

Bandar Togel

Sabung Ayam Online

Berita Terkini

Artikel Terbaru

Berita Terbaru

Penerbangan

Berita Politik

Berita Politik

Software

Software Download

Download Aplikasi

Berita Terkini

News

Jasa PBN

Jasa Artikel

News

Breaking News

Berita

More From Author